First Why Then What

First Why Then What

Aerial View of Soccer Field
Semangat pagi para pembaca setia ManajemenSDM.net

Pagi ini ada artikel tamu dari salah satu guru saya di bidang People Development.

Semoga bermanfaat dan selamat membaca.


Pep Guardiola, begitu dia sering dipanggil.

Semenjak melatih Barcelona B di tahun 2007 hingga menjadi pelatih Barcelona di tahun 2012, Pep Guardiola menghadiahkan Barcelona (Barca) dengan 14 kemenangan.

Di tahun 2009, Pep Guardiola menganugrahkan piala La Liga, Copa Del Ray, Piala Super Spanyol, Piala Super UEFA, dan Piala Dunia Antar Klub FIFA.

Prestasi Pep Guardiola tidak hanya berhenti di tahun 2009.

Satu tahun berikutnya Pep Guardiola juga mempersembahkan 3 piala (La Liga, Piala Super Spanyol, dan Liga Champion UEFA) untuk Barcelona.

Kejayaan Pep Guardiola di tahun 2011 juga belum meredup, 4 piala (La Liga, Piala Super Spanyol, Liga Champion UEFA, dan Piala Dunia Antarklub FIFA).

Dan sebelum mundur dari kursi pelatih, satu piala ditinggalkan Pep Guadiola di tahun 2012, Copa del Ray.

Setelah begitu banyak kemenangan yang diraih, dan saat dipuncak karir nya sebagai pelatih di Barca, Pep Guardiola memutuskan mengundurkan diri.

Sebelum secara resmi mengundurkan diri, Pep Guardiola berkata :

“Kemenangan tidak lagi membuat saya senang. Dan Kekalahan tidak lagi membuat saya sedih”.

Bisa jadi perasaan yang dirasakan Pep Guardiola juga pernah atau sedang kita rasakan.

Coba kita perbesar sudut pandang kita, dari pandangan ke dalam diri menuju keluar, ke sebuah organisasi.

Dulu sebelum organisasi besar bernama Indonesia ini dibangun oleh para funding father, Indonesia sedang berada dalam posisi dijajah.

Dengan value yang sama, para funding father memutuskan mendirikan Indonesia.

Selama 69 tahun berikutnya, perjuangan itu diteruskan oleh anak-anak bangsa.

Walaupun masih banyak PR yang perlu dikerjakan oleh anak-anak bangsa, namun tidak bisa dipungkiri secara global kondisi kesejahteraan warga Indonesia semakin baik dari waktu kewaktu.

Saya teringat saat kecil dahulu, hanya satu keluarga saja yang memiliki motor di RW saya.

Sekarang jumlah motor yang dimiliki tiap keluarga sebanding dengan jumlah orang yang ada di rumah.

Dahulu menyebrang jalan di dekat rumah itu menjadi kemewahan saat bisa melihat mobil. Sekarang jalan itu dipenuhi motor dan mobil yang berlalu lalang.

Bagi anak-anak bangsa itu, mereka merasa ada yang hilang.

“Benar kita semakin sejahtera, namun terasa ada yang hilang”.

Rasa yang sama bisa jadi juga sedang kita rasakan.

“saya semakin kaya namun ada yang hilang”

Sepertinya organisasi bernama Indonesia terlalu besar, mari kita perkecil pandangan kita kedalam organisasi perusahaan kita.

Baca juga : Kumpulan Form dan SOP penting HRD

Dari tahun 80 an perusahaan ini berdiri, pundi-pundi sudah kita dapatkan.

Namun, kalau mau ditanya in deep of our heart, “Sepertinya ada nilai yang hilang, nilai yang dahulu pernah ada.”

Apa yang terjadi sebenarnya?

Kenapa kejayaan kita tidak diikuti dengan kepuasan hati?

Rasanya seakan semakin kehilangan “trust” pada perusahaan.

Begitu juga dengan anak-anak bangsa, kecintaan mereka kepada negara dihadang ketidakpercayaan pada pemerintah.

Bagi anggota team kita, keberhasilan-keberhasilan performance yang mereka capai sepertinya tidak ada rasanya, hambar.

Simon Sinek menggambarkan kondisi tersebut dengan diagram seperti dibawah.

Setiap organisasi yang dibangun memiliki dua tujuan utama, mendapatkan untung financial sebanyak-banyaknya dan bertahan dalam waktu yang lama.

Pertanyaan “What” yang identic dengan mekanis digunakan untuk mewakili kuadran Financial.

Sedangkan, kuadran time diwakili oleh pertanyaan “why” yang identic dengan organization value.

Kondisi seperti di atas, oleh Simon Sinek disebut fenomena “Split”.

Bagi anak-anak bangsa, split itu berupa hilang nya nasionalisme-nilai Pancasila.

Di organisasi kita, bisa jadi nilai yang hilang itu berupa “Care” – saling peduli.

Dulu kita guyub, namun lama-lama kita menjadi egois.

Atau bisa jadi nilai itu berupa “performance”, atau nilai yang hilang berupa “passion”.

Tidak heran, organisasi saat ini sedang berfokus tidak hanya mengejar performance, namun juga memasukan hati dalam proses mencapai hasil terbaiknya.

Artikel ini ditulis oleh N Kuswandi atau biasa dipanggil Coach Andi, beliau adalah alumni Universitas Negeri Semarang, jurusan Psikologi.

Beliau adalah seorang trainer dengan berbagai macam pengalaman training dan memiliki berbagai sertifikat seperti Certified Professional Coach From Loop Consulting, Certified Training & Assessment from AUS Government, Certified Professional of HRM from Freemind Certification, dan lain sebagainya

Selain itu, Coach Andi juga seorang penulis buku. Sudah ada beberapa buku yang dibuat, seperti buku Good Talent Management Practice, Coaching Handbook dan People Development Handbook.

N Kuswandi dapat dihubungi melalui email : novianta.k@gmail.com dan nomor telepon : 081351210828

Salam HR

ManajemenSDM.net – Portal Terbaik Belajar Ilmu Manajemen SDM (HR) di Indonesia

disclaimer : semua yang tertulis disini adalah opini pribadi penulis


Untuk pertanyaan dan diskusi silakan menghubungi kami di kolom komentar atau hubungi kami di :

Email : admin@manajemensdm.net

Official WA  : 08986904732 (Whatsapp Only)

ManajemenSDM.net – Portal Terbaik Belajar Ilmu Manajemen SDM (HR) di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *